-->
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2014

katamu kau akan merindukanku

Harus kutaruh mana namamu, jika "kita" kini hanya gundukan pasir dan desir ombak yang pernah kita datangi saat langit mulai menyembunyikan matahari dan menyisakan merah padam.
Dengan merah itu katamu kau akan merindukanku dengan rindu yang kedalamannya mampu membuat napasmu tak lagi berisi udara.

HNS

Selasa, 26 Juni 2012

huruf-huruf yang tak terbaca

Sepasang mata itu adalah huruf-huruf yang tak terbaca. terangkai menjadi kata iya sekaligus tidak. bagaimana aku akan mengartikan jika ia adalah dekat yang jauh.
seorang gadis meminta setangkai mawar? bukan, sepertinya bukan begitu. lalu aku berlari. jauh, jauh, jauh. benar-benar jauh. aku tahu huruf-huruf itu akan terus mengejar sebab sepasang mata itu masih menatapku.

Hammidun Nafi' Syifauddin
2012

Sabtu, 24 Maret 2012

Rangkaikanlah untukku sebait sajak


;tentang mimpi indah yang pedihnya terbawa sampai kau terjaga, atau mimpi buruk yang indahnya baru kau temu esok paginya. tentang bertemu yang sejenak tapi lekat bayangnya tak dapat sirna. tentang ingin yang tak pula menemu cara mewujudkannya. tentang nama yang kau tak tahu bagaimana memujanya.

-- Hammidun Nafi’ Syifauddin

Kamis, 22 Desember 2011

Jangan Mimpimu Terlalu Khayal

seperlabuhan Matahari kau diam
barangkali pikirmu adalah kapas diterpa badai
jangan mimpimu terlalu khayal
sebab tak tentu darat untukmu berlabuh
jangan kau lukis terlalu indah itu yang dalam angan
seperlabuhan Bulan kau cepatlah terpejam

Hammidun Nafi’ Syifauddin
2011

Sajak hujan untuk seorang gadis

dari timur dan barat hujan itu menujuku
berbincang sejenak
bercerita tentang gadis yang terus mengisak
ditawarkannya telaga
"menyelamlah" katanya
"di dasar sana seorang gadis menunggumu"

hujan itu pergi tanpa pamit
datang hanya sejenak
"bukankah yang mengering karena lama kau tinggal ini belum cukup basah?" kata pepohonan itu

Hammidun Nafi’ Syifauddin
Oktober 2011

Minggu, 13 November 2011

Bisikan Hujan


belum habis benar bisikan dari balik pintu
angin dan embun semalaman bergurau senda
dituangkannya malam dalam tetesan
rumput terpukau basah, menengadah

masih ingin batang pohon itu merayu
ketika hujan berbincang dengan daun-daun
jelas suaranya dari balik pintu
isyaratkan waktu banyak berlalu

bergegas basah kering merupa
sebelum sempat segar dicecap
ilalang berbisik menyapa sekumpulan mereka
tak benar diucapnya salam jumpa
jelas sangat
dari balik pintu yang belum terbuka

Hammidun Nafi’ Syifauddin
Oktober 2011

Pergi


dan kau terus pergi
meski belum pernah datang
bahkan barang sekali

mustinya kau mengerti
di dalam cangkir itu ada pahit
tidakkah kau ingin menabur asam kemudian menggantinya madu?

di ujung pagi kau berkisah
tentang gejolak yang kian meranum
kemudian kau lenyap
meninggalkan tanah merah disuburi cadas

di ujung petang kau datang
di balik gerombolan kabut kau bersembunyi
kau biarkan yang manis itu hanya tersentuh mataku
dan di ujung petang
kunikmati sendiri isi cangkirku

Hammidun Nafi’ Syifauddin
Ramadhan 1432 H/Agustus 2011

Tentang Hati



Kepadamu hati tempat segala yang tak mudah dimengerti.
Tentang gelisah yang justru membuatmu tersenyum sepanjang waktu.
Tentang rindu yang datang mengusik, kemudian membuatmu susah tidur di malam hari.
Tentang rindu yang enggan pergi meski pemiliknya telah lama undur diri.
Kau yang selalu mengeja isyaratnya
dan nyatanya kau lebih sering salah baca.
Kau seperti kumbang yang mati, karena suratmu tak berhasil diterjemahkan mawarmu.
Kepadamu aku menyebut diri penyair.
Penyair yang hanya mampu mengajarimu merangkai bisu
untuk menyembunyikan segalanya tentang rindu.

Hamidun Nafi’ Syifauddin
Semarang, Juni 2011.

tentang melati


melati,
terbanglah bagai kupu-kupu
Bersama kemboja kutitipkan segala risalat
Ceritakan pada semua orang, tentang wewangian tempat asalmu
Kemudian turunlah menjadi salju
Hinggaplah di ujung rerumputan itu
Sebab kutahu, langit akan mengutus angin
untuk menghadirkan sejuk
ke dalam kemelut di khayalku

HNS
Semarang,  Juli 2011

Kenanglah aku


Suatu saat nanti jika kau sempat
kenanglah aku

Dengan rangkaian kata
yang pernah kuselipkan di ingatanmu

Dengan nada rindu
yang tak sengaja kutiupkan ke telingamu

Dengan bayangan wajah
yang pernah kutitipkan di balik matamu

Dengan lembaran kisah
yang barangkali tak berharga itu

--Hammidun Nafi’ S
Untuk Sebuah Kenangan