-->
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sajak Malam Untuk Mata Bidadari


Cerpen Hamidun Nafi’ Syifauddin

seperlabuhan Matahari kau diam
barangkali pikirmu adalah kapas diterpa badai
jangan mimpimu terlalu khayal
sebab tak tentu darat untukmu berlabuh
jangan kau lukis terlalu indah itu yang dalam angan
seperlabuhan Bulan kau cepatlah terpejam

Melantunkan sajak itu, yang kembali terlintas adalah mata indah dari balik jendela malam itu. Rambutnya terurai di bahu. Duduk di sampingnya adalah seorang lelaki penuh renjana. Lelaki itu berdiri untuk menutup jendela. Hanya sesaat, jendela itu kembali terbuka. Siapa lagi yang membuka kalau bukan gadis itu.
Aku duduk di bawah Trembesi seberang jalan. Jaraknya hanya beberapa langkah dari jendela itu. Dari bawah Trembesi ini bisa kugambarkan dengan jelas bagaimana raut muka lelaki itu; raut muka yang menyimpan renjana yang kian memuncak. Dia berdiri. Menatap gadis lembut itu dengan tatap mata kasar. Tangannya mengayuh jendela. Jendela kembali tertutup. Tak  ada apa-apa selain gelap.
Benang merah dalam hidupnya telah dimulai. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain membiarkan mata tertutup dengan sedirinya. Kemudian mimpi-mimpi buruk datang silih berganti.

Kamis, 20 Desember 2012

Serabi Kelabu


Cerpen Hamidun Nafi’ Syifauddin
Satu hal yang tak pernah aku lupakan adalah cara mengingatmu. Membawamu dari alam yang telah lalu untuk menyusun kembali gerak tubuhmu dalam imajinasiku. Menyusun kembali senyummu dalam kelopak mataku. Atau sekadar menjelmakan angin menjadi suaramu.
Satu hal lain yang tak pernah berhasil aku pelajari adalah cara melupakanmu. Menghapus segala yang telah terekam menjadi ruang hitam hampa. Atau ruang putih tanpa pangkal ujung, sehingga siapapun yang melihat tak akan mampu mendefinisikan apapun.
Beringin di ujung kampung itu menjadi satu bagian yang tak mampu kuhapuskan. Kicau burung perenjak meliuk panjang menyatu dengan sapuan angin. Getarannya mengisyaratkan kedamaian alam dengan segala romantikanya. Di dahan paling rendah itu tanganmu bergelayutan sambil memetik beberapa daun. Daun yang secara umur belum pantas pisah dari pohonnya. Dan ketika angin datang, telapak tanganmu menengadah. Sekejap daun yang kau remas hambur bersama angin.

Tentang Sebuah Makam di Bawah Pohon Mangga

Cerpen Hamidun Nafi' Syifauddin

DI belakang rumah itu, Emak selalu bercerita. Di bawah pohon mangga yang dulu pernah berjaya. Berbuah luar biasa banyaknya, dengan ukuran yang membuat mulut sedikit menganga sambil mengecapkan lidah dan menelan ludah.
Sepanjang musim mangga tiba, anak-anak tetangga selalu bergembira. Mereka akan makan mangga. Begitu yang Eyang lakukan waktu emakku masih kecil—membagi-bagikan mangga yang sudah masak.
Tak satu pun buah mangga yang kata orang-orang laku mahal itu membuat Eyang terbujuk untuk menjualnya kepada tengkulak. Tak sedikit pula tengkulak menawarkan banyak uang, tapi oleh Eyang hanya dikasih dua buah lalu uangnya dikembalikan.
Kalau pagi datang, para tetangga silih berganti menyirami pohon mangga dengan air bekas cucian ikan. Biar buahnya tambah manis, katanya. Bahkan sampai sekarang, saat Emak sudah hampir seusia Eyang dulu, para tetangga masih setia menyirami pohon mangga. Kau kenapa tak mau berbuah lagi, katanya.

Tentang Suamimu yang Tidak Kukenal


Cerpen Hamidun Nafi' Syifauddin

Ada yang memanggilku dari gubuk itu setiap pagi. Kadang suara anak kecil, kadang suara perempuan. Aku tak yakin ini adalah kali pertama aku berkunjung. Tapi aku tak dapat mengingat apakah aku benar-benar penah ke sana.

Pagi itu kau diam. Ketika aku berharap tahu siapa nama ayah gadis kecil yang selalu bersembunyi di balik punggungmu, bergelayutan di lenganmu, kemudian lari ke balik pintu ketika aku menemukannya.

Kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku yakin betul. Kau memperlihatkan logat tak wajar. Kau nampak gugup ketika aku mendekati foto pernikahanmu.
Pun berbagai kisah tentang meja itu. Meja yang kini hanya ada pot bunga kecil yang merindukan asbak rokok. Sepertinya di situ tempatmu dulu merangkai malam. Sampai kemudian suara kecil memercik dari dalam kamar membubarkan kalian. Itu suara gadis kecilmu yang kehausan. Suara gadis kecilmu yang mimpi dikejar-kejar binatang jahat.

Tentang Gerimis di Kampung yang Selalu Sunyi


Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin
Gerimis ini sangat indah. Ketika datang bersama angin, suaranya seperti desah perempuan yang bermanja di pundak suaminya. Jika datang di siang hari, wujudnya merupa kilau permata. Ketika merintik di genangan air, kau mungkin merasa sedang menyaksikan pertunjukan balet.
Belum juga rerumputan tenggelam oleh genangan yang dibuatnya, gerimis itu sudah pergi. Kampung ini masih sunyi. Sepanjang hari jika gerimis tak datang, maka tak ada lain kecuali suara derit bambu dan kerisik dedaunan yang saling bergesekan.
Kampung ini memang selalu sunyi. Tak ada anak-anak berlarian untuk sekadar main kejar-kejaran. Pintu-pintu rumah selalu tertutup. Hanya ada beberapa Ibu yang sesekali keluar rumah, itu pun dengan wajah tertutup. Jika tidak tertutup, pastilah dia berjalan sambil menunduk.
Sampai matahari benar-benar terbenam, beberapa Ibu berduyun menuju sebuah rumah. Ada kakek tua di sana. Kecuali kakek tua itu, di kampung ini semua Ibu-ibu.
Ibu-ibu itu memakai lengan panjang warna kelabu. Satu demi satu masuk rumah kakek tua itu. Lalu malam benar-benar gelap. Tapi tak satupun membawa penerang. Sebagai penanda, hanya suara yang tak lebih keras dari bisik. Kecuali suara ketukan tongkat di lantai kayu itu—suara tongkat kakek tua.

Di Sebuah Kamar Hotel


Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin
Baiklah, mari kita mulai dari sini. Dari gang sempit sebelah apartemen mewah. Jay menyusuri jalan yang menyerupai lorong gelap. Menyeberangi jalan raya kemudian masuk gang lagi.
Sudah hampir jam tiga pagi. Jalan makin sepi.Tak banyak mobil berkeliaran. Hanya ada beberapa mobil sempoyongan setelah keluar dari tempat hiburan malam. Jay mempercepat langkah.
hotel eks.
Nama hotel itu dicetak dengan huruf kecil. Jay masuk ke hotel itu.
“Kamar penuh!” kata pria kekar berjaket hitam di meja resepsionis.
Jay merogoh saku celana dan mengeluarkan kertas putih. Ada beberapa kalimat di kertas itu, termasuk yang diucapkan pria tadi. Jay membaca kalimat seterusnya.
“Sapi melompat-lompat.”

Rabu, 14 Maret 2012

Pria Berjarit itu Terus Gelisah


Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin
Semua yang dikisahkan berawal dari hal yang tak kuketahui. Tentang rumah besar di seberang jalan. Tentang gadis kecil yang menari di tengah malam. Juga tentang petir yang menyambar di luar musim mendung.
Jika benar apa yang mereka kisahkan, maka pria berjarit di pelataran rumah besar itu bukanlah pria macam kami. Usianya tak lagi sewajarnya manusia. Barangkali dua kali usia beringin besar di belakang rumah itu.
Di tangannya ada tongkat sebesar telunjuk sepanjang lengan pria dewasa. Dia berjalan ke depan beberapa langkah, kemudian membalikkan badan, dan berjalan lagi ke depan dengan arah yang berbeda. Air mukanya basah akan kegelisahan.
Sesekali tongkat kecil itu dihempaskan ke pohon Turi. Bunga Turi yang pahit meliuk-liuk bak tangan perempuan. Usai itu, pria berjarit membalas dengan beberapa kata. Berkali-kali ia lakukan itu. Ke batang pintu, ke tiang gapura, juga kepada daun yang dibawa angin.
Sementara mereka bercakap, aku melangkah masuk pelataran. Mereka terus bercakap. Sedikitpun tak ada tanda-tanda mereka menghiraukanku. Barangkali itu kebiasaan mereka. Mengabaikan orang lewat sebagai halnya orang lewat itu    yang sebenarnya tak sadar    mengabaikan mereka.
“Maaf Tuan, jika boleh tahu, kesaktian macam apa itu?” tanyaku.
Mereka berhenti. Batang pintu, tiang gapura, pohon Turi, dan daun yang terbang itu bagai berlutut di depanku. “Sinuhun[1]?” kata pria itu.
“Sinuhun? Apa pula maksudnya Tuan?”
Pria itu tak lekas menjawab. Dia memilih mengibaskan tongkatnya ke benda-benda yang terus berlutut. Sekejap, daun yang terbang, terbawa kembali oleh angin, berguling-guling di tanah kemudian lenyap oleh gelap. Batang pintu, pohon Turi dan tiang gapura kembali ke wujudnya yang wajar. Menuju rimbunan Ilalang pria itu menghilang.
Peristiwa tengah malam itu merupakan peristiwa gaib yang hanya orang-orang tertentu mampu menjelaskannya. Semenjak malam itu, satu-persatu kejadian nampak oleh mata kepalaku. Kejadian yang belum dikisahkan orang-orang. Malam demi malam aku menyaksikan itu.
Pria berjarit muncul kembali. Bukan hal gaib yang dia kembali peragakan. Dia berdiri tegak. Tangannya terlipat di dada. Aku mengamatinya dari jauh. Dia menyadari keberadaanku jauh sebelum kemunculannya.
“Sinuhun?” ucapnya sambil membungkukkan badan.
Aku mendekat. Memasuki gapura. Angin berhembus memberi rasa berbeda. Kulit kepala di belakang telinga serasa lebih erat mencengkeram, kemudian kembali kendur diiringi bulu tangan yang berdiri.
“Apakah sinuhun itu panggilan dari bangsamu untuk bangsa kami?”
“Bukan, itu panggilan untuk orang yang bisa melihat kami. Macam Sinuhun.”
“Bukankah mereka banyak?”
“Tidak, sekarang tinggal Sinuhun.”
“Kenapa tidak ada yang lain?”
“Hati mereka tidak bersih Sinuhun.”
Aku diam sejenak.
“Tuan gelisah tiap kali Tuan tampak.”
“Iya Sinuhun, satu pusaka saya hilang.”
“Pusaka?”
“Iya Sinuhun.”
Rupanya itulah isi perbincangannya dengan benda-benda mati kemarin malam. Tentang pusaka yang hilang. Pusaka peninggalan leluhur. Bentuknya sukar dijelaskan. Yang jelas pusaka itu mampu menyembuhkan yang sakit, memulihkan yang rusak, menyadarkan yang gila, serta meluruskan yang sesat.
Ribuan tahun pusaka itu dijaga. Bermacam kesesatan kembali diluruskan berkat pusaka tersebut. Wajar jika pria berjarit itu khawatir. Keseimbangan alamnya akan goyah oleh nafsu makhluk bangsa kami.
Pada masanya pria berjarit masih muda, kala itu semua orang yakin hanya Raja dan Algojo yang berhak memberikan keadilan. Ratusan orang telah tamat oleh cambuk dan gada Algojo. Sampai pada giliran saudagar kaya mendapat hukuman.
Tak pasti kata apa yang diucapkan ribuan penonton kala itu. Dari  jauh hanya riuh. Dari cara mereka mengepalkan tangan ke atas kemudian berteriak keras dapat dipastikan mereka kecewa. Bagaimana mungkin orang yang melahap harta orang lima kampung itu selamat dari cambuk dan gada Algojo dengan begitu mudah. Pasti ada yang main-main di belakang itu.
Barisan orang yang saudaranya lumpuh kaki hanya karena mencuri ayam meneriakkan keras “potong kakinya”. Barisan lain yang tetangganya mati karena mencuri kalung berteriak “bunuh”. Beberapa yang tak memiliki sanak dengan nasib demikian berteriak “bakar”.
Algojo menghentikan teriakan dengan mengibaskan cambuk ke udara. Suaranya keras bagai petir. Beberapa yang terkejut langsung diam. Yang masih berteriak lamat-lamat menyusul diam setelah gada Algojo mengacung lurus muka mereka. Saudagar itu tersenyum kemudian pergi. Tubuhnya lenyap oleh jarak pandang. Yang terlihat hanya pundaknya naik turun seperti orang tertawa terbahak. Dia menang.
Kabar itu segera tersebar. Disusul kabar-kabar serupa    beberapa saudagar kaya selamat dari Algojo.
Beberapa saudagar yang mulutnya bocor menceritakan sebuah resep agar lolos dari Algojo. “Kami ini melakukan satu ritual khusus,” katanya. Ritual itu hanya mampu dilakukan orang-orang golongan mereka.
“Mula-mula, ritual itu dilaksanakan ketika kejahatan kalian diketahui. Perintahkanlah orang yang kalian percaya untuk pergi ke pasar. Belilah bermacam makanan enak. Termasuk makanan yang tahan lama. Usahakan satu pedati bisa penuh oleh belanjaan kalian. Utus lagi satu orang untuk menggiring pedati itu ke rumah Algojo. Jangan lupa kirim lagi satu pedati ke rumah raja. Dan jangan lupa, satu peti uang logam kiranya cukup untuk ditukar dengan nyawa kalian.”
Saudagar itu kemudian tertawa. Mereka yang hanya mampu melihat belanjaan satu pedati dalam imajinasi kemudian pergi sambil mencibirkan bibir. “Sialan, rupanya mereka semua bajingan,” kata salah seorang.
Peristiwa itulah yang kemudian membuat pria berjarit memutar akal. Satu pusaka berhasil dilahirkannya. Berpuluh-puluh pedati yang dikirim ke rumah Algojo dan Raja tak lagi sampai ke kediaman mereka. Saudagar sekaya apapun akan tetap dihukum dan dicambuk.
***
Kisah negeri pria berjarit itu tak jauh beda dengan kampung ini. Baru kemarin malam dua pria berteriak maling sambil membawa dua karung barang curian. Tak cuma itu, jembatan di timur kampung ini tak lekas rampung karena uangnya selalu dibawa kabur. Termasuk hutan di selatan kampung ini, makin gundul tanpa ada kejelasan siapa yang bertanggungjawab.
Barangkali beberapa peristiwa itu bersangkut paut dengan pusaka pria berjarit yang hilang itu. Tapi aku tak begitu yakin. Sebab malam-malam berikutnya tak dapat kutemui lagi pria berjarit itu. Beberapa malam aku berkunjung ke rumah besar. Yang kutemui hanya pohon Turi yang meliuk dihempas angin.
Malam penantian yang selalu berujung kecewa hampir membuatku putus asa. Sampai pada suatu malam pohon turi bertingkah tak sewajarnya tumbuhan. Batangnya terus meliuk. Bukan karena angin. Tapi karena ia ingin bicara denganku.
“Sinuhun.”
Aku mendekat perlahan, “Kau pohon Turi, rupanya dapat bersuara?”
“Benar.”
“Saya mencari sesuatu.”
“Saya tahu yang Sinuhun cari.”
“Pria berjarit itu?”
“Iya, dia telah pergi.”
“Pergi?”
“Benar. Dan dia menitipkan sesuatu untuk Sinuhun.”
“Pusaka sakti itu?”
“Bukan. Tapi ada hubungannya.”
“Apa?”
“Jarit.”
“Jarit?”
“Iya, itu di belakang Sinuhun.”
“Aku tak mengerti satu hal pun tentang jarit ini.”
“Silakan amati sejenak corak batiknya.”
Aku mengamati jarit itu, coraknya benar bukan corak batik biasa. Gambarnya macam bumi yang kami tinggali. Bermacam pulau terlukis di sana.
“Sebelum hilang, pusaka itu telah dititipkan kepada mereka.”
“Mereka siapa?”
“Semua manusia dalam gambar itu.”
Agustus 2011
Dalam kumpulan 20  Cerpen terbaik Kompetisi Cerpen Pemuda KEMENPORA
Hamidun Nafi’ Syifauddin
warga soeket teki




[1] Sebutan lain baginda

Kamis, 22 Desember 2011

Batin

Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin
Dari kamar mandi ada yang mendesah. Itu suara keran yang resah karena airnya tak mau diam. Satu demi satu menetes. Keran itu mengerahkan seluruh tenaga untuk sekadar bertahan.
Tetesan itu makin cepat melaju. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Aku hanyut dalam suara itu. Dalam setiap suara tetesan air tercipta gelombang besar menerjang kepalaku, membentuk kilatan bergambar wajah seseorang, menembus, kemudian menjauh. Satu lagi menetes, satu gelombang besar datang.
Wajah dalam kilatan itu bukan wajah asing. Dia anakku yang bertahun lalu pergi dari rumah. Kemudian dia hadir setiap malam melalui suara tetesan keran.
Tetesan air itu makin menjadi-jadi. Suaranya menggelegar seperti dua logam besar yang bertabrakan. Aku gemetar dan dibuat berkeringat olehnya. Aku ingin menjerit.