-->

Rabu, 14 Maret 2012

Pria Berjarit itu Terus Gelisah


Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin
Semua yang dikisahkan berawal dari hal yang tak kuketahui. Tentang rumah besar di seberang jalan. Tentang gadis kecil yang menari di tengah malam. Juga tentang petir yang menyambar di luar musim mendung.
Jika benar apa yang mereka kisahkan, maka pria berjarit di pelataran rumah besar itu bukanlah pria macam kami. Usianya tak lagi sewajarnya manusia. Barangkali dua kali usia beringin besar di belakang rumah itu.
Di tangannya ada tongkat sebesar telunjuk sepanjang lengan pria dewasa. Dia berjalan ke depan beberapa langkah, kemudian membalikkan badan, dan berjalan lagi ke depan dengan arah yang berbeda. Air mukanya basah akan kegelisahan.
Sesekali tongkat kecil itu dihempaskan ke pohon Turi. Bunga Turi yang pahit meliuk-liuk bak tangan perempuan. Usai itu, pria berjarit membalas dengan beberapa kata. Berkali-kali ia lakukan itu. Ke batang pintu, ke tiang gapura, juga kepada daun yang dibawa angin.
Sementara mereka bercakap, aku melangkah masuk pelataran. Mereka terus bercakap. Sedikitpun tak ada tanda-tanda mereka menghiraukanku. Barangkali itu kebiasaan mereka. Mengabaikan orang lewat sebagai halnya orang lewat itu    yang sebenarnya tak sadar    mengabaikan mereka.
“Maaf Tuan, jika boleh tahu, kesaktian macam apa itu?” tanyaku.
Mereka berhenti. Batang pintu, tiang gapura, pohon Turi, dan daun yang terbang itu bagai berlutut di depanku. “Sinuhun[1]?” kata pria itu.
“Sinuhun? Apa pula maksudnya Tuan?”
Pria itu tak lekas menjawab. Dia memilih mengibaskan tongkatnya ke benda-benda yang terus berlutut. Sekejap, daun yang terbang, terbawa kembali oleh angin, berguling-guling di tanah kemudian lenyap oleh gelap. Batang pintu, pohon Turi dan tiang gapura kembali ke wujudnya yang wajar. Menuju rimbunan Ilalang pria itu menghilang.
Peristiwa tengah malam itu merupakan peristiwa gaib yang hanya orang-orang tertentu mampu menjelaskannya. Semenjak malam itu, satu-persatu kejadian nampak oleh mata kepalaku. Kejadian yang belum dikisahkan orang-orang. Malam demi malam aku menyaksikan itu.
Pria berjarit muncul kembali. Bukan hal gaib yang dia kembali peragakan. Dia berdiri tegak. Tangannya terlipat di dada. Aku mengamatinya dari jauh. Dia menyadari keberadaanku jauh sebelum kemunculannya.
“Sinuhun?” ucapnya sambil membungkukkan badan.
Aku mendekat. Memasuki gapura. Angin berhembus memberi rasa berbeda. Kulit kepala di belakang telinga serasa lebih erat mencengkeram, kemudian kembali kendur diiringi bulu tangan yang berdiri.
“Apakah sinuhun itu panggilan dari bangsamu untuk bangsa kami?”
“Bukan, itu panggilan untuk orang yang bisa melihat kami. Macam Sinuhun.”
“Bukankah mereka banyak?”
“Tidak, sekarang tinggal Sinuhun.”
“Kenapa tidak ada yang lain?”
“Hati mereka tidak bersih Sinuhun.”
Aku diam sejenak.
“Tuan gelisah tiap kali Tuan tampak.”
“Iya Sinuhun, satu pusaka saya hilang.”
“Pusaka?”
“Iya Sinuhun.”
Rupanya itulah isi perbincangannya dengan benda-benda mati kemarin malam. Tentang pusaka yang hilang. Pusaka peninggalan leluhur. Bentuknya sukar dijelaskan. Yang jelas pusaka itu mampu menyembuhkan yang sakit, memulihkan yang rusak, menyadarkan yang gila, serta meluruskan yang sesat.
Ribuan tahun pusaka itu dijaga. Bermacam kesesatan kembali diluruskan berkat pusaka tersebut. Wajar jika pria berjarit itu khawatir. Keseimbangan alamnya akan goyah oleh nafsu makhluk bangsa kami.
Pada masanya pria berjarit masih muda, kala itu semua orang yakin hanya Raja dan Algojo yang berhak memberikan keadilan. Ratusan orang telah tamat oleh cambuk dan gada Algojo. Sampai pada giliran saudagar kaya mendapat hukuman.
Tak pasti kata apa yang diucapkan ribuan penonton kala itu. Dari  jauh hanya riuh. Dari cara mereka mengepalkan tangan ke atas kemudian berteriak keras dapat dipastikan mereka kecewa. Bagaimana mungkin orang yang melahap harta orang lima kampung itu selamat dari cambuk dan gada Algojo dengan begitu mudah. Pasti ada yang main-main di belakang itu.
Barisan orang yang saudaranya lumpuh kaki hanya karena mencuri ayam meneriakkan keras “potong kakinya”. Barisan lain yang tetangganya mati karena mencuri kalung berteriak “bunuh”. Beberapa yang tak memiliki sanak dengan nasib demikian berteriak “bakar”.
Algojo menghentikan teriakan dengan mengibaskan cambuk ke udara. Suaranya keras bagai petir. Beberapa yang terkejut langsung diam. Yang masih berteriak lamat-lamat menyusul diam setelah gada Algojo mengacung lurus muka mereka. Saudagar itu tersenyum kemudian pergi. Tubuhnya lenyap oleh jarak pandang. Yang terlihat hanya pundaknya naik turun seperti orang tertawa terbahak. Dia menang.
Kabar itu segera tersebar. Disusul kabar-kabar serupa    beberapa saudagar kaya selamat dari Algojo.
Beberapa saudagar yang mulutnya bocor menceritakan sebuah resep agar lolos dari Algojo. “Kami ini melakukan satu ritual khusus,” katanya. Ritual itu hanya mampu dilakukan orang-orang golongan mereka.
“Mula-mula, ritual itu dilaksanakan ketika kejahatan kalian diketahui. Perintahkanlah orang yang kalian percaya untuk pergi ke pasar. Belilah bermacam makanan enak. Termasuk makanan yang tahan lama. Usahakan satu pedati bisa penuh oleh belanjaan kalian. Utus lagi satu orang untuk menggiring pedati itu ke rumah Algojo. Jangan lupa kirim lagi satu pedati ke rumah raja. Dan jangan lupa, satu peti uang logam kiranya cukup untuk ditukar dengan nyawa kalian.”
Saudagar itu kemudian tertawa. Mereka yang hanya mampu melihat belanjaan satu pedati dalam imajinasi kemudian pergi sambil mencibirkan bibir. “Sialan, rupanya mereka semua bajingan,” kata salah seorang.
Peristiwa itulah yang kemudian membuat pria berjarit memutar akal. Satu pusaka berhasil dilahirkannya. Berpuluh-puluh pedati yang dikirim ke rumah Algojo dan Raja tak lagi sampai ke kediaman mereka. Saudagar sekaya apapun akan tetap dihukum dan dicambuk.
***
Kisah negeri pria berjarit itu tak jauh beda dengan kampung ini. Baru kemarin malam dua pria berteriak maling sambil membawa dua karung barang curian. Tak cuma itu, jembatan di timur kampung ini tak lekas rampung karena uangnya selalu dibawa kabur. Termasuk hutan di selatan kampung ini, makin gundul tanpa ada kejelasan siapa yang bertanggungjawab.
Barangkali beberapa peristiwa itu bersangkut paut dengan pusaka pria berjarit yang hilang itu. Tapi aku tak begitu yakin. Sebab malam-malam berikutnya tak dapat kutemui lagi pria berjarit itu. Beberapa malam aku berkunjung ke rumah besar. Yang kutemui hanya pohon Turi yang meliuk dihempas angin.
Malam penantian yang selalu berujung kecewa hampir membuatku putus asa. Sampai pada suatu malam pohon turi bertingkah tak sewajarnya tumbuhan. Batangnya terus meliuk. Bukan karena angin. Tapi karena ia ingin bicara denganku.
“Sinuhun.”
Aku mendekat perlahan, “Kau pohon Turi, rupanya dapat bersuara?”
“Benar.”
“Saya mencari sesuatu.”
“Saya tahu yang Sinuhun cari.”
“Pria berjarit itu?”
“Iya, dia telah pergi.”
“Pergi?”
“Benar. Dan dia menitipkan sesuatu untuk Sinuhun.”
“Pusaka sakti itu?”
“Bukan. Tapi ada hubungannya.”
“Apa?”
“Jarit.”
“Jarit?”
“Iya, itu di belakang Sinuhun.”
“Aku tak mengerti satu hal pun tentang jarit ini.”
“Silakan amati sejenak corak batiknya.”
Aku mengamati jarit itu, coraknya benar bukan corak batik biasa. Gambarnya macam bumi yang kami tinggali. Bermacam pulau terlukis di sana.
“Sebelum hilang, pusaka itu telah dititipkan kepada mereka.”
“Mereka siapa?”
“Semua manusia dalam gambar itu.”
Agustus 2011
Dalam kumpulan 20  Cerpen terbaik Kompetisi Cerpen Pemuda KEMENPORA
Hamidun Nafi’ Syifauddin
warga soeket teki




[1] Sebutan lain baginda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar